8 Penyebab Kebakaran di Tempat Kerja yang Sering Terabaikan

8 Penyebab Kebakaran di Tempat Kerja yang Sering Terabaikan

Kebakaran di tempat kerja jarang datang tiba-tiba. Di balik api besar yang melumpuhkan operasional dan menimbulkan kerugian ratusan juta rupiah, biasanya ada kondisi sepele yang dibiarkan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan: kabel yang terkelupas, serbuk kayu yang menumpuk, atau jerigen berisi cairan mudah terbakar yang diletakkan di dekat area pengelasan.

Artikel ini membahas 8 pemicu kebakaran yang paling sering terabaikan di lingkungan kerja, terutama di workshop, bengkel, dan pabrik, lengkap dengan kasus nyata yang pernah terjadi di Indonesia.

Pemicu 1: Percikan dan Cairan Mudah Terbakar

Percikan api yang bertemu dengan bahan atau cairan mudah terbakar adalah kombinasi paling berbahaya di area kerja. Ada dua kondisi yang perlu diwaspadai.
1. Jerigen berisi cairan mudah terbakar
Cairan seperti thinner mudah menguap dan tersulut. Jika jerigen diletakkan terbuka atau dekat sumber percikan, api dapat menyambar dengan cepat. Kasus nyatanya, kebakaran bengkel las di Buleleng terjadi akibat percikan api las yang menyambar cairan thinner.

2. Pengelasan dekat bahan mudah terbakar
Percikan las bisa melompat cukup jauh dan jatuh di material yang mudah menyala. Kebakaran pabrik di Mojokerto, misalnya, dipicu percikan las yang menyambar bahan karton dan spons.

Pemicu 2: Bahan Mudah Terbakar yang Dibiarkan Menumpuk

Bahan mudah terbakar tidak selalu tampak berbahaya, sehingga sering dianggap bagian biasa dari pekerjaan sehari-hari. Tiga contoh yang paling sering ditemui:
3. Serbuk kayu yang menumpuk
Serbuk gergaji yang dibiarkan menumpuk di sekitar mesin adalah bahan bakar yang siap tersulut. Kebakaran pabrik kayu di Semarang terjadi ketika ledakan mesin menyambar serbuk gergaji di sekitarnya.

4. Kardus di dekat mesin
Kardus yang disimpan menempel pada mesin yang panas mudah terbakar. Ini sesuai prinsip segitiga api: bahan yang mudah terbakar (kardus), panas (mesin), dan udara bertemu di satu titik dan menjadi pemicu api.

5. Lap bercampur oli
Lap bekas yang terkena oli dan diletakkan sembarangan di meja kerja dapat menyala saat terkena percikan api. Kebakaran bengkel di Pematangsiantar terjadi akibat percikan api yang menyambar lap bercampur oli.

Pemicu 3: Listrik

Listrik adalah pemicu kebakaran yang paling dominan. Berdasarkan data yang dikumpulkan, 66,7% kebakaran di Jakarta dan 206 dari 314 kasus kebakaran di Kota Bekasi sepanjang 2025 dipicu oleh korsleting listrik. Tiga kondisi berikut sering luput dari perhatian:
6. Kabel terkelupas
Tembaga yang terbuka dan menyentuh kabel atau benda lain dapat memicu percikan api.

7. Stopkontak bertumpuk
Menyambungkan terlalu banyak peralatan ke satu stopkontak membuat beban listrik berlebih. Akibatnya terjadi panas berlebih (overheating) hingga komponen meleleh dan terbakar.

8. Stopkontak hangus atau longgar
Colokan yang longgar dan noda hitam pada stopkontak menandakan adanya percikan api. Jika dibiarkan, komponen akan panas berlebih dan akhirnya terbakar.

Kesimpulan

Dari delapan pemicu di atas, tidak ada yang membutuhkan biaya besar untuk dicegah. Merapikan kabel, membersihkan serbuk kayu, memindahkan kardus dari mesin, menyimpan cairan mudah terbakar di tempat yang semestinya, dan mengganti stopkontak yang rusak semuanya bisa dilakukan hari ini.

"Mencegah bahaya jauh lebih murah daripada membayar dampaknya. Satu tindakan kecil untuk K3 hari ini dapat menyelamatkan banyak nyawa dan aset di esok hari."

Agar tim Anda juga siap ketika api benar-benar muncul, ikuti pelatihan penanggulangan kebakaran (damkar) bersertifikasi Kemnaker dan BNSP bersama Sertifikasi Pro. Hubungi kami untuk konsultasi jadwal dan penawaran pelatihan. Ingin mendapatkan informasi dan pengetahuan K3 lainnya? Ikuti kami di Instagram @sertifikasi.pro dan LinkedIn Sertifikasi Pro.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *